Meskipun jarak rumah dengan tempat saya merantau hanya 50-an kilometer, tapi pulang adalah hal yang paling saya harapkan. Jika kalian tidak bisa membayangkan seberapa jauh 50 kilometer, itu setara dengan satu setengah jam perjalanan naik motor dengan kecepatan sedang. Kadang bisa lebih lama atau lebih cepat tergantung seberapa padat lalu lintas di jalan. Sekadar informasi jalan yang saya lewati untuk pulang adalah jalan lintas sumatera yang dilalui truk-truk bermuatan besar yang ingin berlayar ke pulau Jawa.
Pulang bukan sesuatu yang mewah bagiku, tapi rumah selalu
menawarkan hal-hal yang tak pernah bisa aku dapat di perantauan. Bukan hal
istimewa tapi selalu membuat saya merindukannya. Hal-hal kecil yang mungkin tak
banyak orang bisa dapatkan, karena ini bukan soal bendanya atau sesuatunya, ini
soal rasanya. Sesuatu yang tak bisa dinilai dengan rupiah yang selama ini
kucari di kota, anjayy.
Kurang lebih ada 3 hal yang ingin aku bagikan, tiga hal ini
personal, tapi bisa jadi relate
dengan kalian. Entah karena kita pernah mengalaminya atau memang karena kita
ditakdirkan bersama, wkwkwk. Saya tidak tahu mengapa saya merasakannya dan
apakah ada di antara kalian juga pernah merasakannya, yang jelas saya ingin
menceritakan apa yang saya alami dan jika kalian punya cerita yang sama kita
bisa saling menyapa, uhuyyy.
Hal pertama yang saya rindukan dari rumah adalah
keheningannya. Keheningan yang saya maksud adalah malam hari. Saat lampu rumah
sudah redup, jalanan mulai lengang dan tetangga sudah mulai memadamkan api
rumahnya. Senyap, henyak, dan seperti muncul perasaan aneh di dalam hati.
Perasaan rindu pada hal-hal yang tidak pernah kita alami. Ada banyak puisi yang
tercipta dari suasana ini. Saya sering menulis puisi saat merasakan
perasaan semacam ini. Beberapa puisi itu
ada di buku saya berjudul Denting Jam Dinding dan lainnya ada di buku saya
selanjutnya berjudul Setelah Musim Panas Berakhir (tunggu, ya).
Entah perasaan apa yang muncul, tapi setiap kali ia muncul
saya sangat menyukainya. Meskipun memicu kesedihan tanpa sebab, perasaan ini
justru membuat saya sadar Tuhan memang tidak tidur, Ia terjaga mengawasi
hambanya. Pikiran-pikiran yang muncul pada saat itu bukan sekadar overthinking
biasa, seperti sedang berkontemplasi bersama suara jangkrik, memeriksa gerak
gerik angin yang menggerakkan dedaunan atau menelusuri jalan panjang masa depan
dari masa lalu yang silam. Sebuah perasaan yang tak dapat saya rasakan di
perantauan.
Hal kedua adalah suasana setelah hujannya. Saya selalu
berharap bisa pulang kampung di setiap bulan di akhir tahun. Saat hujan tidak
mengeja awan dan jalanan basah tanpa perbedaan. Namun, saya juga benci jika
harus kehujanan sepanjang jalan. Saya hanya suka saat hujan turun saat saya
sudah di rumah. Memandang hujan dari balik jendela kamar, menyaksikan rumput
mandi dan bunga-bunga kering gugur diterjang rintik hujan. Suasana yang tak
bisa saya dapatkan di perantauan, di jendela-jendela kafe, atau di taman-taman
kota.
Saat itu terjadi, pikiran saya kadang melambung ke arah yang
entah. Hidung saya menghirup wangi petrichor yang jernih, mata saya menyaksikan
warna abu-abu di langit dan di seluruh tempat, kulit saya merasakan udara
dingin yang hangat. Rasanya aneh sekaligus unik, tapi ada perasaan asing dalam
diri sendiri saat semuanya berakhir, saat semua kenangan dan ingatan itu
pelan-pelan berjalan keluar dari lamunan.
Saya juga suka melamun di teras masjid saat hujan, tapi
perasaan itu tidak muncul. Saya tidak tahu mengapa, tapi ada kesan tersendiri
pada hujan di rumah sendiri. Padahal sama-sama air, sama-sama turun dari
langit. Apalagi jika hujannya adalah hujan panas. Hujan yang tiba-tiba turun
saat matahari sedang say hello pada kebun bapak. Seperti dua anugerah yang
datang di saat yang sama, tapi tidak ada yang suka, tapi entah mengapa saya
suka itu.
Hal terakhir adalah mandi air hangat di rumah. Saya beberapa
kali menginap di hotel berbintang karena suatu kegiatan organisasi. Namun,
setiap kali saya mandi air hangat menggunakan shower, saya tidak merasakan apa
yang saya rasakan ketika mandi air hangat di rumah menggunakan gayung dan air
yang direbuskan oleh ibu dengan tungku kayu bakarnya.
Biasanya saat sampai ke rumah dalam kondisi basah kuyup
karena kehujanan, saya selalu minta direbuskan air pada ibu. Atau ketika saya
pulang dalam keadaan sakit, ibu biasanya akan menawarkan mandi air hangat,
terlebih ketika saya demam dan baru selesai diurut atau dikerok. Air rebusan
yang bercampur dengan air dari sumur itu tak pernah bisa tergantikan oleh air
panas mana pun di dunia ini sekalipun pemandian air panas yang pernah saya
datangi.
Entah suhunya yang cocok atau karena cinta yang menjadikan
air itu penuh doa dan kehangatan lebih. Rasanya seperti dipeluk ibu sambil
diceritakan tentang masa kecil dan kenangan yang tak pernah bisa diulang
kembali. Perpaduan antara air mendidih dengan air dingin dari sumur begitu
sempurna. Perpaduan yang cocok untuk menghapus rasa penat setelah perjalanan
panjang, atau mengobati sakit yang teramat dalam, atau bahkan mengobati duka
yang terlalu suram.
Saya tidak tahu apakah ini dirasakan oleh kalian atau tidak.
Namun, saya selalu merasakan kehadiran masa lalu saya, kenangan semasa saya
kanak-kanak ketika mandi air panas di rumah. Setiap guyuran yang mengenai
wajah, mengalir ke badan hingga kaki selalu memberikan bekas kerinduan pada
suatu masa yang entah. Masa yang sepertinya saya pernah ada di sana tapi saya
tidak bisa memastikan di mana dan kapan itu terjadi. Ada perasaan sedih, rindu,
bahagia dalam waktu bersamaan, dan perasaan itu akan hilang saat tetes terakhir
air itu mengalir dari gayung ke tubuh.
Karena tidak bisa setiap hari mandi air hangat di rumah,
saya selalu memanfaatkan waktu itu dengan baik. Saya selalu menghemat air
hangat itu dengan menggunakananya sedikit demi sedikit. Bahkan saya punya trik
untuk merasakan air hangat lebih lama. Trik itu adalah sikat gigi dan bilas
sabun dengan air dingin, supaya penggunaan air hangat benar-benar efisien. Ya,
karena kadang ember untuk air hangat dan air dingin yang saya gunakan berbeda.
Ada satu hal lagi yang saya rasakan saat mandi air hangat,
seperti ada rasa penyesalan atau rasa bersalah untuk hal-hal yang abstrak,
sureal dan tidak dapat didefinisikan. Saya tidak tahu masalahnya apa tapi
seperti ada yang harus saya tanggung beban penyesalannya. Atau mungkin memang
memori-memori atas kesalahan dan kekecewaan di masa lalu itu muncul lagi tanpa
disadari dang menimbulkan perasaan tersebut, saya tidak tahu.
Nah, itu dia tiga hal yang membuat saya selalu kangen dengan
rumah. Ada satu hal lagi sebenarnya, yaitu masakan ibu. Namun, saat saya pulang
saya tidak mau merepotkan beliau. Apa yang ibu masak saat saya pulang, akan
saya makan. Kalaupun tidak sesuai selera saya, saya lebih baik goreng telor,
atau meminta lauk di rumah kakak, atau izin untuk masak sendiri, karena kadang
ibu juga tidak menduga saya pulang dan tidak menyiapkan makanan apa-apa untuk
anaknya dari perantauan.
Saya tahu beliau lelah karena bekerja di sawah dan saya
selalu menghargai apapun usahanya untuk menyambut saya pulang. Direbuskan air
untuk mandi air hangat saja saya sudah sangat bahagia. Walaupun masakan ibu
tiada duanya, saya tidak bisa memaksa beliau masak untuk saya, kadang saat saya
di rumah justru saya harus inisiatif masak untuk beliau. Hitung-hitung mengasah
skill dan mendapat penilaian langsung dari koki profesional untuk hajatan di
kampung. Btw, ibu saya selalu jadi tukang masak panggilan untuk acara-acara
besar di kampung, seperti di rumah kiai atau saat pengajian akbar di pondok
pesantren atau di masjid saat hari-hari besar keagamaan. Dan bakat itu turun ke
semua anaknya, termasuk saya, satu-satunya anak lelakinya.
Komentar
Posting Komentar