Langsung ke konten utama

Postingan

3 Hal Yang Membuat Saya Rindu dengan Rumah

 Meskipun jarak rumah dengan tempat saya merantau hanya 50-an kilometer, tapi pulang adalah hal yang paling saya harapkan. Jika kalian tidak bisa membayangkan seberapa jauh 50 kilometer, itu setara dengan satu setengah jam perjalanan naik motor dengan kecepatan sedang. Kadang bisa lebih lama atau lebih cepat tergantung seberapa padat lalu lintas di jalan. Sekadar informasi jalan yang saya lewati untuk pulang adalah jalan lintas sumatera yang dilalui truk-truk bermuatan besar yang ingin berlayar ke pulau Jawa. Pulang bukan sesuatu yang mewah bagiku, tapi rumah selalu menawarkan hal-hal yang tak pernah bisa aku dapat di perantauan. Bukan hal istimewa tapi selalu membuat saya merindukannya. Hal-hal kecil yang mungkin tak banyak orang bisa dapatkan, karena ini bukan soal bendanya atau sesuatunya, ini soal rasanya. Sesuatu yang tak bisa dinilai dengan rupiah yang selama ini kucari di kota, anjayy. Kurang lebih ada 3 hal yang ingin aku bagikan, tiga hal ini personal, tapi bisa jadi r...

Hujan Musim Panas

Tak ada musim hujan yang kekurangan air, tak ada musim panas yang kebanjiran. Namun, akankah musim panas kali ini membawa cerita baru, seperti mimpimu beberapa tahun silam yang kau ceritakan padaku. Aku membawa ceritamu ini ke mana-mana. Ke atas kasur, ke malam, ke subuh, ke mimpiku sendiri. Aku tak paham maksud dari hujan musim panas yang kau selalu rindukan itu. ***   Pagi ini kau memberi tahuku sesuatu yang menurutmu sangat penting, namun bagiku nampak biasa saja. Kau terbiasa mendramatisir sesuatu. “Yan, menurut prakiraan cuaca hari ini akan turun hujan di Jakarta . Aku harap itu benar terjadi,” tulismu di pesan singkat itu. “Semoga kamu senang hati, Sen,” balasku. “Kok gitu?” “Ya kalau nanti hujan kan kamu senang hati, to. Kamu kan sudah lama nggak ngibasin rambutmu di bawah guyuran hujan, yang katamu langit yang sedang menangis itu.” “Nanti ke rumahku ya, Yan. Kita hujan-hujanan di taman depan rumahku.” “Kalau hujan. Kalau langitnya nggak jadi nangis gimana?...

Lomba Bakiak

Nyaris tak ada yang menarik pada minggu pertama bulan Agustus. Minggu ini saya hanya melakukan rutinitas seperti biasa sebagai guru honorer dan marbot masjid . Hanya ada dua hal di luar kebiasaan yang terjadi selama satu minggu ke belakang. Salah satunya menarik salah satunya lagi tidak terlalu, meski itu adalah kali pertama. Eh, sebelum lanjut, jika kamu baca tulisan ini jangan berekspektasi kalau akan ada kuot-kuot romantis, penuh motivasi atau melankolis, ya. Saya sedang tidak menulis puisi atau karya sastra tingkat kabupaten. Ini tulisan random saja. Mau dilanjut monggo, nggak dilanjut yo jangan to, udah susah-susah nulis masa gak dibaca. Oke lanjut. Pertama, untuk pertama kalinya saya jadi pembina upacara di sekolah pertama tempat saya mengajar. Ini bukan pengalaman satu-satunya menjadi pembina upacara. Saya sudah pernah merasakannya ketika Madrasah Tsanawiyah . Ketika itu saya adalah Pemimpin Regu Utama ( Pratama – bukan Andika) Pramuka. Setiap Minggu ketika upacara pembukaan la...

Jurnal 25

   Tulisan ini akan menjadi penanda bahwa ada seorang yang mengaku penulis tapi tidak kunjung dikenal sebagai penulis bahkan oleh orang-orang di sekitarnya. Jurnal 25 adalah sebuah catatan perjalanan hidup, latihan menulis dan tempat bercerita. Rubrik ini akan memuat kejadian-kejadian menarik dalam hidup penulis dan merangkum aktivitas selama satu minggu. Tulisannya tidak akan panjang-panjang karena penulisnya juga masih males-malesan. Takutnya di tengah perjalanan dia capek dan malah banting stir jadi sopir ambulan padahal dia tidak bisa nyetir mobil. Rubrik ini muncul karena kegelisahan penulis terhadap dirinya sendiri. Setelah hampir 8 tahun menulis di media, dia tidak kunjung mendapatkan apresiasi yang dia harapkan. Dan yang paling parah adalah kemampuan menulisnya yang stagnan dan tidak mengalami perkembangan yang signifikan. Pada usia yang sudah seperempat abad ini penulis merasa tulisannya gitu-gitu aja. Apalagi setelah kalah dalam beberapa sayembara dan lomba, penulis ...

Kita Perlu Transit Meski Sejenak: Resensi Buku "Transit Urban Stories"

 Seno Gumira Ajidarma kembali ke mode "banal"-nya. Pemaknaan subteks dari yang liar dibutuhkan dalam pembacaan buku Transit Urban Stories ini. Cerita-cerita pendek yang fasih dalam menerjemahkan kegelisahan kita terhadap hal-hal yang tidak dapat dibayangkan meski dalam kesan sepintas dan tidak berulan-ulang. Seperti biasanya, SGA tampil dengan kepiawaiannya dalam menceritakan kegelisahan-kegelisahan yang liar dengan dibungkus kisah imajinatif yang abstrak. Dalam buku Transit ini SGA mengusung tema urban yang percaya atau tidak ditulis dalam pengembaraannya ke banyak tempat. Setidaknya begitulah yang tertulis pada titimangsa cerita-ceritanya. Kisah tentang cinta, kemanusiaan, bahkan agama dikembangkan dengan bumbu surealitas dan sedikit satire. Mungkin tulisan dalam buku ini akan resisten bagi mereka yang anti terhadap hal-hal fulgar dan terkadang agak “kotor”. Namun buku ini tidak hanya menjual itu, buku ini mempunyai sisi romantisme dalam bercerita tentang keindahan dan ke...

Eureka : Bukan Sekadar Studio Foto

Ikadubas Lampung baru saja mengadakan sesi pemotretan untuk kebutuhan promosi dan publikasi. Kegiatan tersebut dilakukan di salah satu studio foto estetik di Bandar Lampung . Eureka adalah studio foto tempat pemotretan itu berlangsung. Dalam bahasa Yunani , eureka berarti menemukan suatu hal. Hampir seperti momen "Aha!" dalam sebuah perjalanan menemukan sesuatu.  Teman-teman pasti pernah mengalaminya. Bagi saya momen eureka sudah menjadi bagian dari hidup karena untuk menulis kita butuh momen itu, dan pada dasarnya momen seperti itu memang bisa kita ciptakan dengan beragam cara salah satunya dengan membaca atau jalan-jalan, bahkan jongkok di kamar mandi. Mengusung nama Eureka, studio foto estetik yang terletak di jl. Imam Bonjol kecamatan Kemiling ini mempunyai semangat artistik yang menggairahkan. Kita tidak hanya disuguhkan dengan studio foto yang luas namun juga punya variasi spot yang menarik.  Bagi saya Eureka bukan hanya tempat foto, ini lebih seperti galeri seni ...

Langkah-langkah Menulis di Media Masa

Selama 8 tahun menulis, banyak sekali pertanyaan templat dari orang-orang. Beberapa di antaranya adalah : "Gimana sih caranya tulisanmu terbit di media?" dan "Nulis di media itu ada honornya enggak?" Melalui tulisan ini, saya berikrar akan menjawabnya. Tapi ada syaratnya, kalau tulisan ini membawa manfaat untukmu kamu wajib membagikannya ya. Kalau menurutmu gak ada manfaat, sila tinggalkan komentar (no SARA okay). Apa yang pertama kali harus disiapkan penulis supaya tulisannya terbit di media? Jawabannya adalah niat, yap niat. Kamu gak perlu repot-repot datang ke kafe, bawa laptop, pesan americano atau cappuccino. Kamu cukup niat dalam hati kalau kamu mau menulis.  Hal kedua adalah, siapkan camilan, eh bukan bukan, maksudku tulisan. Kalau kamu sudah siap niat, mau punya camilan atau enggak, mau ada kopi atau enggak, kamu akan tetap menulis. Karena kalau kamu enggak punya tulisan, apa yang mau dikirim ke media? Kamu mau kirim email kosong? (Aku pernah sih, memang pek...

Candu Bahasa 1 : Kadang Cinta Datang Karena Dipaksa

 Halo teman-teman. Perkenalkan namaku Imam Khoironi. Aku adalah orang di balik tulisan-tulisan yang pernah teman-teman baca di blog ini. Di pertengahan tahun ini, aku ingin menantang diriku untuk membuat semacam seri tulisan. Tulisan ini nantinya akan ditayangkan di blog secara rutin dalam tiap minggu dalam rubrik yang aku namai "Candu Bahasa" Catatan Duta Bahasa. Ya, aku baru saja menyandang gelar baru. Gelar sekaligus tanggungjawab. Seperti kata Uncle Ben di film Spiderman "With great power comes great responsibility". Bulan ini aku telah dikukuhkan menjadi Duta Bahasa Provinsi Lampung. Oleh karena mengemban tanggungjawab itu, dengan apa yang aku punya, aku ingin berkontribusi. Setidaknya untuk melatih diriku disiplin dalam menulis. Seri tulisan ini akan menjadi medan tempurku yang pertama. Untuk mengawalinya, mari kita ucapkan bismillah. Selamat menyelami perjalanan kepenulisanku. Dalam rubrik ini aku ingin bercerita, tentang awal mula kecintaanku pada sesuatu ya...

Menjadi Penulis Adalah Latihan, Bukan Cuma Bakat

 Sewaktu bertemu dengan teman, saya memberitahunya bahwa saya sekarang jadi penulis. Dia sempat ragu, tatapannya tidak menggambarkan keyakinan. Dalam hatinya mungkin, "ah, orang ini sedang bergurau." Seakan mengerti arah pikirannya, spontan saya katakan, "saya tidak sedang bercanda." Kemudian, dia dengan penasaran menanyakan, apa buktinya kalo kamu penulis. Lantas saya menyuruhnya untuk membuka google dan mengetik nama saya. Alangkah terkejutnya dia, ketika tahu bahwa temannya - yang ketika sd dan smp selalu mendapat nilai jelek dalam pelajaran Bahasa Indonesia - menjadi penulis. Seperti belum puas, dia kemudian bertanya, sejak kapan kamu menulis? Kujawab, sejak sma. Kemudian dia menimpali, kamu dulu itu gak keliatan ada bakat nulis loh kok bisa jadi penulis, apalagi nilai harian bahasa Indonesia mu itu loh enggak pernah dapet 80. Yap, cerita di atas adalah fakta. Fakta bahwa saya adalah pembenci pelajaran bahasa Indonesia ketika sekolah dasar dan sekolah menengah ...

5 Situs Ini Bakal Bikin Kamu Tambah Kritis Berpikir

Perkembangan sistem informasi pada satu dekade terakhir begitu pesat. Setiap orang di segala tempat dapat mendapatkan informasi dari berbagai sumber dengan begitu cepat, entah melalui sosial media maupun media digital atau website. Akan tetapi kemutakhiran teknologi informasi tersebut tidak dibarengi dengan perkembangan kecerdasan penggunanya. Ini dibuktikan dengan masifnya berita hoax yang tersebar dari berbagai platform sosial media, belum lagi dengan banyaknya situs yang menyesatkan seperti judi online, pinjaman online, maupun situs berbau pornografi yang bisa dengan mudah diakses oleh semua orang dengan ' smartphone '-nya.  Keberadaan internet pada dasarnya merupakan alat bantu untuk mempermudah kehidupan manusia. Selain itu internet juga menjadi salah satu sumber informasi serta ilmu pengetahuan yang cepat dan efektif. Meskipun sebagai user kita harus pintar memilih website-website mana saja yang kredibel, terpercaya dan juga terbaik dalam menyajikan berbagai kontennya. ...

Cerpen "Darah Daging" | Medan Pos

Darah Daging Terbit pada 2 Februari 2020 Menyepi suasana rumah itu sekarang, setelah ditinggal salah satu penghuninya. Rumah sederhana itu kini cuma ada 2 manusia berteduh disana. Seorang anak laki-laki dengan ibunya. Siang itu terdengar suara seorang anak laki-laki masuk kerumah itu dan memanggil – manggil ibunya “Ibu... Ibu... Ibu...” sembari menangis tersedu – sedu. “Ada apa nak? Mengapa kau menangis?”   Maisaroh kaget melihat putranya masuk rumah sambil menangis. “Apakah semua orang di komplek rumah kita sudah lupa dengan namaku? Sehingga mereka memanggilku Topik , itu kan nama ayah,” ujar Ardan dengan nada kebingungan, masih sambil menangis. Dengan santai Maisaroh menjawab pertanyaan anaknya “Jadi hanya karena itu jagoan ibu menangis, lalu apakah kau mau tau mengapa mereka memanggilmu dengan nama almarhum ayahmu?” Ardan tidak menjawab, dia hanya menganggukan kepala dengan masih diiringi senggukan. Kemudian Maisaroh berjalan meninggalkan Ardan, menuju sebuah k...